Menyoal Pemeriksaan Spesimen Saat Rasio Moralitas Pasien Covid-19 RI di Tempat Global

Merdeka. com – Kasus kematian akibat Covid-19 di tanah air hingga hari ini mencapai 5. 903 orang. Risiko kematian masyarakat Indonesia akibat Covid-19 berada pada angka 4, 5 persen atau lebih tinggi dari angka persentase global yakni 3, 64 persen.

Wakil Ketua Pemimpin Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Adib Khumaidi mengatakan, bahwa angka kematian di Indonesia lebih luhur dari angka global karena jumlah testing di Indonesia masih sangat rendah.

“Ya kita persentasenya lebih besar karena kepandaian testing kita lebih rendah daripada negara lain, nah kita jangan lihat persentasenya saja, ” ujar Adib kepada merdeka. com, Rabu (12/8).

Per 12 Agustus 2020, totalnya baru satu, 78 juta spesimen yang diperiksa. Padahal, jumlah penduduk di Indonesia menurut Badan Pusat Statistik (BPS) diperkirakan mencapai 269, 60 juta pada tahun 2020.

Menurut Adib, hal itu menandakan kemampuan test Covid-19 di Nusantara masih kurang dari 1 komisi jumlah penduduk. Tepatnya berada pada angka 0, 66 persen.

Dia mengatakan, jika mengikuti standar yang ditetapkan oleh Lembaga Kesehatan Dunia (WHO), uji representatif Covid-19 adalah 1 per 1. 000 penduduk per pekan. Jadi bila diakumulasikan dengan jumlah penduduk di Indonesia, maka seharusnya, jumlah tes di Indonesia adalah 269 ribu per minggu atau kira-kira 38 ribu orang per harinya.

Target test Covid-19 di Indonesia sebenarnya sudah dinaikkan menjadi 30 ribu test per hari. Hal ini disampaikan sebab Presiden Joko Widodo sejak asal bulan Juli lalu. Namun kenyataannya, kerap kali Satgas Covid-19 mengadukan jumlah testing di bawah 30 ribu. Misalnya hari ini, Satgas Covid-19 melaporkan hanya 26. 248 spesimen yang diperiksa.

Menurut Adib, seharusnya masyarakat juga menaruh perhatian terhadap angka kesembuhan di Indonesia. Pada hari tersebut, jumlah pasien yang sembuh lebih banyak dari pasien yang terkonfirmasi positif. 2. 088 pasien telah dinyatakan sembuh dan 1. 942 orang dinyatakan positif Covid-19.

Pada 11 Agustus cerai-berai, Ketua Satgas Covid-19, Wiku Adisasmito menyampaikan bahwa angka kesembuhan nasional lebih tinggi daripada angka ijmal, yakni 64, 7 persen. Sedangkan angka kesembuhan dunia 64, 67 persen.

“Sebenarnya persentase angka kesembuhan itu penting. Berapa yang dirawat dan yang segar. Ini penting, ” ujarnya.

Sesuai permintaan Presiden Joko Widodo, yang harus difokuskan adalah bagaimana caranya menekan angka kematian dan meningkatkan angka kesembuhan. Buat itu, ia berharap, berapapun total pasien yang dirawat, harapannya nilai kesembuhan bisa semakin meningkat. Jadi tidak hanya hari ini sekadar yang angka kesembuhannya mengalami penambahan.

“Yang paling penting, berapapun yang positif dan yang dirawat, maka semuanya harus 100 persen sembuh dan angka janji di Indonesia bisa ditekan, ” ujar Adib.

Untuk bisa merealisasikan harapan Jokowi , ia merasa perlu adanya kolaborasi antara semua pihak. Bukan hanya antara pemerintah & IDI saja, namun masyarakat, pihak swasta maupun lembaga-lembaga yang terkait juga perlu dilibatkan.

Hal ini guna memperkuat penyajian kesehatan di Indonesia. Sarana serta prasarana kesehatan di seluruh kawasan di Indonesia harus dilengkapi. Sehingga pemerintah tidak hanya menuntut kelompok untuk menerapkan protokol kesehatan sekadar, namun pemerintah juga harus menyimpan semua pelayanan kesehatan dengan penuh.

“Jadi di hulunya memang dengan masyarakat, yaitu aturan kesehatan. Di hilirnya juga kudu kita perkuat. Baik itu medium maupun prasarana kesehatan. Seperti ventilator dan ruangan ICU misalnya, harus dilengkapi. Sumber daya manusianya serta obatnya, ” ujar Adib.

Ia mengakui sudah mengkoordinasikan hal ini dengan Satgas Covid-19 dan juga Komite Penanganan Covid-19 di Indonesia. Menurutnya, IDI selain memiliki peran untuk memeriksa penderita, namun juga memiliki peran edukasi kepada masyarakat. Sehingga rasanya menetapkan untuk selalu menyampaikannya kepada Satgas Covid-19. [gil]