Bongkar Sindikat Peredaran Uang Palsu, Penjaga Ringkus 6 Tersangka

Merdeka. com – Uang palsu pecahan Rp100 ribu sejumlah Rp16, 2 miliar lebih berhasil disita polisi dari lengah sejumlah orang yang tergabung di sindikat pemalsu uang antarwilayah. Sebab kasus ini, polisi meringkus enam orang pengedar yang sudah ditetapkan sebagai tersangka.

Pemangku Kepala Kepolisian Resor Kota Gede Surabaya AKBP Hartoyo mengatakan, enam karakter yang sudah ditetapkan sebagai tersangka adalah SWD (53) warga Rumah Permata Merie, Kranggan, Mojokerto; UMW (34) warga Bukit Palma kelompok C4, Surabaya; SYF (41) awak Cakraningrat, Kaliwungu, Jombang; SUG masyarakat Mangga Besar, Taman Sari, Jakarta Barat; NSTM (62) warga Cengkareng, Jakarta Barat; dan HRDS warga Rajin Pinang Indah, Tangerang.

Penangkapan para tersangka ini diakuinya merupakan pengembangan dari kasus semacam yang pernah ditangani oleh Polres Ngawi.

“Barang fakta lain yang diamankan ada kepala unit mesin offset, satu bagian mesin pres, satu unit mesin pengering, lemari pengering, dua rem kertas putih, lima lembar metrai 6. 000 palsu, satu putaran komputer untuk menggambar uang buatan, dan lainnya, ” kata Hartoyo, Kamis (5/11).

Barang bukti uang palsu yang disitanya itu ada yang berupa bagian Rp100 ribu sejumlah Rp9. 460. 000. 000. Kemudian ada juga uang palsu pecahan Rp100 ribu sejumlah Rp6. 693. 000. 000 yang diamankan dalam kondisi belum dipotong. Sehingga total uang buatan yang diamankan sejumlah Rp16. 262. 000. 000.

Kronologis pengungkapan kasus itu berawal semenjak pertengahan November 2019. Di mana tersangka SGY mempunyai rencana untuk memproduksi uang palsu. Ia semrawut menghubungi SYF untuk mencari panti kontrakan di Jombang yang hendak dijadikan tempat memproduksi uang tiruan tersebut.

Selain tersebut SGY juga menghubungi tersangka HRDS untuk menyiapkan gambar atau cetakan. Lalu pada april 2020, komplotan tersebut mulai membeli mesin beserta peralatan lainnya untuk mencetak uang palsu secara bertahap.

Pada Mei 2020, tersangka SGY mulai mencetak uang palsu bagian Rp 100 ribu sejumlah Rp 10 miliar. Dalam pengedaran kekayaan palsu tersebut, tersangka SGY berjalan sama dengan tersangka lainnya. Simpulan NSTM di Jakarta mendapat jatah sejumlah Rp 1 miliar. Kemudian tersangka SMJ dan SMD dalam Jombang mendapat bagian sejumlah Rp 1 miliar. Rencananya uang palsu tersebut akan diedarkan dengan jalan memasukkan ke dalam mesin ATM Bank.

“Ada selalu yang dibelanjakan namun belum ada yang berhasil sampai akhirnya uang palsu tersebut disita polisi. Simpulan SGY membuat uang palsu cuma untuk mendapatkan penghasilan karena tak mempunyai pekerjaan tetap dan dulunya pernah bekerja di percetakan, ” tegasnya.

Sementara tersebut, Deputi Kepala Perwakilan BI (KPw BI) Provinsi Jawa Timur Pemimpin Subarkah mengatakan, uang palsu dengan diproduksi dan berusaha diedarkan para-para tersangka itu masih bisa dikenali melalui teknik 3D (dilihat, diraba, diterawang).

Menurutnya, uang kertas asli kalau diraba tersebut merata kasarnya. Sedangkan uang palsu itu walaupun sudah terasa biadab, tapi masih ada beberapa arah yang tidak kasar.

“Karena kalau uang asli itu kan kasar karena teknik cetak. Tapi kalau ini (uang palsu) bukan karena teknik cetak tapi karena jenis kertasnya yang dipakai, ” ujarnya.

Berasaskan kasus ini, para tersangka kendati terancam pasal 37 Jo Perkara 27 Undang-Undang RI nomor 7 tahun 2011 tentang Mata Kekayaan. Para tersangka terancam hukuman 15 tahun penjara. [cob]